IKM Monjok Barat Mulai Beralih ke QRIS, Literasi Digital Jadi Tantangan - Kabar Lobar

IKM Monjok Barat Mulai Beralih ke QRIS, Literasi Digital Jadi Tantangan

Share This
Satu Portal, Beragam Kabar

Kabar Lobar – Mataram, Transformasi pembayaran digital masih menjadi tantangan bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Dari 91 unit IKM yang ada, sekitar 90 persen masih mengandalkan transaksi secara tunai.


Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan penggunaan sistem pembayaran non-tunai berbasis QRIS.


Kegiatan yang dilaksanakan pada 30 Juli dan 14 Agustus 2026 itu diketuai Ida Ayu Putri Suprapti, bersama anggota Taufik Chaidir, Akhmad Jufri, St Maryam dan Gusti Ayu Arini. Sebanyak 25 pelaku IKM mengikuti kegiatan tersebut.


Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FEB Universitas Mataram, Ida Ayu Putri Suprapti, mengatakan perkembangan teknologi digital seharusnya dapat dimanfaatkan pelaku IKM untuk meningkatkan transaksi dan omzet penjualan.


“Masifnya perkembangan teknologi digital harusnya bisa meningkatkan velocity circulation of money dan omzet penjualan. Tapi jika literasi digitalnya rendah, pelaku IKM tidak akan merasakan manfaatnya,” ujar Ida Ayu Putri Suprapti, Jum'at, 18 September 2026.


Menurut Ida Ayu, masih rendahnya penggunaan pembayaran digital dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya rendahnya literasi keuangan digital, keterbatasan sinyal internet yang stabil, kekhawatiran terhadap keamanan transaksi digital, kebiasaan menggunakan transaksi tunai, serta belum adanya pendampingan secara berkelanjutan.


Karena itu, tim tidak hanya memberikan sosialisasi dan edukasi, tetapi juga melakukan pelatihan teknis penggunaan QRIS, pendampingan pembuatan rekening, pemasangan QRIS hingga monitoring penggunaan.


“Materi yang diberikan meliputi sistem pembayaran tunai dan non-tunai berbasis QRIS, pihak yang terlibat dalam pembayaran non-tunai berbasis QRIS, manfaat bagi pengguna dan merchant, hingga solusi mengatasi kerugian penggunaan QRIS,” jelas Ida Ayu.


Dari 25 peserta, sebanyak 80 persen mampu menjelaskan kembali materi yang telah diberikan. Para peserta juga aktif bertanya, terutama mengenai cara mengakses lembaga keuangan perbankan.


Namun, tantangan muncul saat memasuki tahap praktik. Sekitar 50 persen peserta masih mengalami kesulitan dalam memahami penggunaan QRIS. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi tingkat pendidikan yang relatif rendah dan belum pernah menggunakan sistem pembayaran non-tunai.


Meski demikian, pendampingan mulai menunjukkan hasil. Sebanyak tiga orang mitra telah resmi menjadi nasabah bank, sementara satu mitra lainnya masih dalam proses pemasangan QRIS.


“Kabar baiknya, pendampingan membuahkan hasil. Sebanyak tiga orang mitra telah resmi menjadi nasabah bank dan satu orang mitra lainnya dalam proses pemasangan QRIS,” ungkap Ida Ayu.


Ia berharap ke depan lembaga keuangan perbankan dapat turun langsung ke lokasi untuk membantu pemasangan QRIS sekaligus memberikan penguatan kapasitas secara berkelanjutan.


“Harapannya, pelaku IKM tidak hanya bisa menggunakan QRIS, tetapi juga nyaman dan percaya menggunakan transaksi non-tunai berbasis QRIS,” katanya.


Kegiatan tersebut juga berkontribusi terhadap IKU 2 dan IKU 7 Universitas Mataram melalui keterlibatan mahasiswa dalam pengalaman pembelajaran di luar kampus serta pemanfaatan hasil pengabdian sebagai studi kasus dalam pembelajaran di kelas.